Bentuk-Bentuk Perubahan Makna

PERLUASAN (GENERALISASI)
Terjadi apabila makna suatu kata lebih luas dari makna asalnya. 

Contoh: 
berlayar 
(makna asal) mengarungi lautan dengan kapal layar
(makna sekarang) mengarungi lautan dengan berbagai alat
bapak
(makna asal) orang tua laki-laki
(makna sekarang) orang laki-laki yang layak dihormati

PENYEMPITAN (SPESIALISASI)
Terjadi apabila makna suatu kata lebih sempit cakupannya dari makna asalnya.

Contoh:
sarjana
(makna asal) sebutan untuk orang yang ahli dalam bidang tertentu
(makna sekarang) tamatan S1
pendeta
(makna asal) ahli agama
(makna sekarang) guru agama Kristen Protestan

AMELIORASI
Perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih tinggi dari asalnya.

Contoh:
wanita
(manka asal) nilainya rendah
(makna sekarang) nilainya lebih terhormat

PEORASI
Perubahan makna kata yang nilai rasanya lebih rendah dari asalnya.

Contoh:
gerombolan
(makna asal) orang-orang yang berkelompok
(makna sekarang) pengacau 

SINENTESIA
Perubahan makna akibat pertukaran tanggapan antara dua indera yang berbeda.

Contoh:
kata-katanya pedas
(makna asal) indera pengecap
(makna sekarang) indera pendengar



ASOSIASI
Perubahan makna kata yang terjadi akibat persamaan sifat.



Contoh:
beri saja dia amplop, pasti segala urusanmu menjadi mudah.
(makna asal) tempat untuk menyimpan surat atau uang
(makna sekarang) uang yang beramplop, suap

Pertalian Makna Kata

SINONIM
Dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama atau hampir sama. Ciri bahwa kata itu bersinonim adalah kemampuannya untuk saling menggantikan. Perlu diingat, bahwa pertalian antara kata-kata bersinonim tidak selamanya kompak. Dalam konteks lain, kata-kata tersebut bisa menjadi berlainan maknanya.

ANTONIM
Pertalian antara 2 kata atau lebih yang maknanya saling berlawanan/bertentangan. Ada 3 jenis antonim:
Jenis I
Ciri-ciri: bila salah satu disangkal, artinya sama dengan yang lainnya. Contoh: hidup >< mati. Bila dikatakan tidak hidup, sama artinya dengan mati. Begitu juga dengan sebaliknya.

Jenis II
Ciri-ciri: bila salah satu disangkal, belum tentu artinya sama dengan yang lain. Contoh: pintar >< bodoh. Bila dikatakan tidak pintar, belum tentu artinya bodoh, bisa juga hal itu berarti jenius atau agak pintar.

Jenis III
Ciri-ciri: yang satu menjadi syarat bagi yang lainnya. Contoh: suami >< istri. Seseorang disebut suami apabila ia memilki seorang istri. Begitu juga dengan sebaliknya. Seorang wanita pun tidak bisa disebut istri bila ia masih lajang.

HOMONIM
Pertalian antara dua kata atau lebih yang bentuk penulisan dan cara pengucapannya sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh: Bisa ular kobra bisa mengakibatkan kematian.

HOMOFON
Pertalian antara dua kata atau lebih yang sama cara pengucapannya, tetapi bentuk penulisan dan maknanya berbeda.
Contoh: Bang Ahmad lebih senang menabung di bank.

HOMOGRAF
Pertalian antara dua kata atau lebih yang sama cara penulisannya, tetapi bentuk pengucapan dan maknanya berbeda.
Contoh: Setelah apel bendera, Alex makan apel dengan lahapnya.

POLISEMI
Gejala keragaman makna yang dimiliki oleh suatu kata. Terbentuk karena pergeseran makna atau penafsiran yang berbeda.
Contoh:
(1) Kepala adikku memar karena dilempar batu oleh temannya.
(2) Usia pamanku kini telah berkepala 5.
(3) Ayahku belum lama ini diangkat menjadi kepala sekolah.

Jenis-Jenis Makna Kata

PENGERTIAN
Makna adalah maksud suatu kata atau isi pembicaraan atau pikiran. Jadi, kalau kita ingin mencari makna suatu kata, kita harus mencari maksud dan mengenal ciri-ciri/karakter yang terkandung pada kata tersebut. Makna suatu kata dapat berubah-ubah disebabkan karena:
  • Mendapat pengimbuhan, pengulangan atau pemajemukan.
  • Penempatannya dalam kalimat.
  • Kondisi (waktu dan tempat) dan pemakaiannya.

JENIS-JENIS MAKNA KATA
Makna Leksikal
Makna yang didasarkan makna kamus. Makna ini terdapat di dalam kata-kata yang belum mengalami perubahan bentuk ataupun kata yang belum digunakan dalam kalimat. Makna leksikal dimiliki oleh kata berbentuk dasar, seperti: ayah, pergi, baju, dll.
Makna Gramatikal
Makna yang dimiliki kata setelah mengalami proses gramatikalisasi, yaitu bisa berupa pengimbuhan, pengulangan atau pemajemukan, seperti: bepergian, baju-baju, meja belajar, dll.
Makna Struktural
Makna yang dimiliki oleh suatu kata setelah digunakan dalam kalimat. Misalnya: kata ayah dalam kalimat "Ayah saya telah pergi ke kebun." bermakna "orang tua laki-laki yang pergi ke kebun." Makna struktural dan makna gramatikal seringkali dipertukarkan karena memang antara keduanya sukar dibedakan.
Makna Kontekstual
Makna yang terkandung suatu kata yang keberadaannya maknanya itu sangat bergantung pada situasi dan kondisi penggunaannya. Contoh: 
  • Pantas ia menjadi juara di kelasnya, ia anak rajin. 
  • Betul-betul rajin anak itu, nilai merahnya saja ada 3.
Kata rajin dalam kedua kalimat tersebut berbeda maknanya. Pada kalimat pertama, kata tersebut bermakna getol/giat. Sedangkan pada kalimat kedua berarti malas.
Makna Denotasi
Makna kata/kelompok kata yang sesuai dengan konsep asal apa adanya dan tidak mengandung makna tambahan. Makna denotasi disebut juga makna konseptual, makna lugas atau makna objektif. Contoh:
  • Hitam (warna hitam/gelap)
  • Besi (logam yang sangat keras)
  • Binatang (makhluk yang tidak berakal)
Makna Konotasi
Makna kata/kelompok kata yang didasarkan atas perasaan, atau pikiran seseorang. Konotasi sebenarnya merupakan makna denotasi yang terlah mengalami penambahan, baik dari sikap sosial, lingkungan geografis ataupun dari faktor kesejarahan. Makna konotasi sering disebut juga makna kontekstual, kiasan atau makna subjektif. Contoh:
  • Hitam (hina, sengsara); contoh: lembah hitam.
  • Besi (gagah, perkasa); contoh: tangan besi.
  • Binatang (jahat, buas); contoh: nafsu binatang.
Konotasi Baik dan Buruk
Makna konotasi yang dikandung oleh suatu kata dapat berkesan baik atau buruk. Contoh:
  • Istri (baik); bini (buruk)
  • Meninggal (baik); mati (buruk)
  • Hamil (baik); bunting (buruk)
  • Anda (baik); kamu (buruk)
  • Kurang cerdas (baik); bodoh (buruk)
  • Lembaga permasyarakatan (baik); penjara (buruk)

KATA UMUM DAN KATA KHUSUS
Kata umum adalah kata yang ruang lingkup maknanya mencakup hal-hal umum dan menyangkut aspek-aspek yang lebih luas. Kata khusus adalah kata yang ruang lingkup maknanya mencakup hal-hal sempit atau hanya pada aspek tertentu. Di samping kata umum dan kata khusus, dikenal pula istilah hipernim dan hiponim. Hipernim memiliki pengertian yang sama dengan kata umum. Kata umum dan hipernim disebut superordinat. Hiponim memiliki pengertian sama dengan kata khusus. Kata khusus dan hiponim disebut subordinat.