Hakikat Sastra dan Kesusastraan

PENGERTIAN
Sastra berasal dari dua kata, yaitu "sas" dan "tra". Kata "sas" berarti memaparkan atau mengajarkan, sementara kata "tra" berarti menyatakan alat. Dengan demikian, sastra merupakan alat memaparkan atau mengajarkan (memaparkan atau mengajarkan melalui buku).

Sementara itu, kesusastraan berasal dari dua kata, yaitu "su" dan "sastra". Kata "su" berarti indah, dan bagus, sementara kata "sastra" berarti buku yang indah bahasa dan baik isinya. Dengan demikian, kesusastraan merupakan karya yang di dalamnya menggunakan bahasa yang indah dan baik ditelaah dari segi isinya.

Sastra secara umum adalah ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, perasaan, ide, semangat, dan keyakinan dengan gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Sastra Indonesia adalah suatu kesusastraan yang berupa karya sastra dan hasil budaya seseorang atau suatu bangsa dengan menggunakan bahasa yang indah dan baik isinya sebagai alat komunikasi dalam angkatan dan periodisasi sastra. Kesusastraan adalah karya sastra yang di dalamnya menggunakan bahasa yang indah dan baik ditelaah dari segi estetika.

MANFAAT KARYA SASTRA
  • Memberi kesadaran pada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup.
  • Memberi kegembiraan dan kepuasan batin.
  • Menyampaikan kegembiraan hakiki yang abadi.
  • Menampilkan hakikat kebenaran manusia dan kehidupannya tanpa mengenal batas-batas kebangsaan, ras, suku, status, dan agama.
  • Memenuhi kebutuhan manusia akan naluri keindahannya.
  • Memberikan penghayatan yang mendalam terhadap hal-hal yang kita ketahui.
  • Menolong pembacanya menjadi manusia yang berbudaya, yaitu manusia yang agung namun tetap sederhana, bebas, tetapi mengendalikan diri, kuat perkasa namun penuh kelembutan.

UKURAN SASTRA YANG BAIK
  • Karya sastra adalah usaha merekam isi jiwa sastrawannya.
  • Sastra adalah komunikasi.
  • Sastra adalah sebuah keteraturan bahasa dan logika.
  • Sastra adalah penghiburan.
  • Sastra adalah sebuah integrasi atau kesatuan yang harmonis antarunsur-unsurnya.

UKURAN SASTRA YANG ISTIMEWA
  • Sebuah karya sastra yang bermutu merupakan ide dari sastrawannya.
  • Sebuah karya sastra yang bermutu merupakan penemuan.

MUTU KARYA SASTRA YANG MEMBERI WAWASAN
  • Karya sastra yang bermutu merupakan karya yang pekat.
  • Karya sastra yang bermutu merupakan penafsiran kehidupan.
  • Karya sastra yang bermutu merupakan sebuah pembaharuan.

PEMBAGIAN ILMU SASTRA
Teori Sastra
Ilmu yang membahas tentang definisi sastra, hakikat sastra, dan dasar-dasar sastra sebagai landasan atau dasar-dasar dalam membuat karya sastra. 
Sejarah Sastra
Bertugas menyusun perkembangan sastra dari mulai timbulnya, hingga perkembangan akhirnya. 
Kritik Sastra
Ilmu sastra yang berusaha menyelidiki karya sastra dengan langsung menganalisis hasil-hasil sastra dan memberikan penilaian atau pertimbangan baik-buruknya sastra dan bernilai seni atau tidaknya karya seni tersebut.

Berbicara di Depan Umum (Public Speaking)

PENGERTIAN
Public speaking atau berbicara di depan umum tidaklah membutuhkan bakat khusus. Latihan yang teratur dan tekun akan menjadikan kita cakap berbicara di muka umum. Berbicara di depan umum merupakan kegiatan yang pada dasarnya dilakukan dalam rangka komunikasi.

Komunikasi adalah percakapan dua orang atau lebih, yaitu antara komunikator (orang yang menyampaikan pesan) dengan komunikan (orang yang menyebarkan informasi) dalam situasi formal maupun non-formal dengan menggunakan bahasa lisan yang membentuk wacana lisan yang berkesinambungan.

HAMBATAN PUBLIC SPEAKING
Persoalan yang banyak dijumpai oleh pemula pada umumnya adalah persoalan yang datang dari diri sendiri, seperti:
  • Tipe kelinci.
  • Belum terbiasa.
  • Pemahaman yang keliru.
  • Kurang persiapan.
  • Kondisi kurang sehat.
  • Motivasi tidak kuat.
  • Menyia-nyiakan bakat khusus.

ALAT UTAMA SAAT BERBICARA
Alat utama seorang pembicara adalah mulut, wajah, dan anggota tubuhnya. Dari ketiga alat utama tersebut, yang paling penting adalah mulut. Mengingat pentingnya mulut, wajah, dan anggota tubuh sebagai alat ekspresi dalam berbicara di depan publik, maka seorang pembicara perlu memahami dan menguasai alat-alat tersebut secara optimal.
  • Mulut yang terlatih akan dapat menghasilkan kualitas suara, lafal (artikulasi), dan lagu (intonasi) yang memikat.
  • Wajah dengan ekspresinya (mimik) akan dapat mengungkapkan isi hati pembicara secara mendalam.
  • Anggota tubuh dengan gerakannya yang tepat akan dapat memperjelas memberi penekanan dan memperkuat maksud pembicara.

PERSIAPAN JANGKA PANJANG
  • Menumbuhkan pribadi yang sehat.
  • Memperkaya pengetahuan dan pengalaman.
  • Melatih diri dalam setiap kesempatan yang tersedia.

PERSIAPAN JANGKA PENDEK
Menentukan Topik dan Tujuan
Topik yang tidak dikuasai lebih baik ditolak oleh pembicara. Tujuan berbicara di depan umum yaitu memberi tahu, mendorong, meyakinkan, bertindak, dan menghibur. 
Menganalisis Publik dan Situasi, meliputi:
  • Hal umum (jumlah, usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, agama, sosial, politik, ekonomi, adat, dan budaya).
  • Hal khusus (motivasi publik, tingkat pengetahuan pendengar terhadap topik, sikap publik terhadap topik dan pribadi pembicara).
  • Situasi yaitu semacam wadah tempat kita berbicara yang meliputi jenis pertemuan, tempat, fasilitas, dan waktu. 
Mengumpulkan, Menyeleksi, dan Menyusun Bahan
Mengumpulkan bahan dari pengalaman, penelitian, imajinasi, dan pemikiran kreatif. Menyeleksi bahan sesuai topik, publik, situasi, membedakan bahan utama dengan contoh, fakta dengan opini. Seorang pembicara harus menyusun bahan-bahannya dengan baik (sistematik). 
Menentukan Metode
  • Menggunakan naskah.
  • Menghafal.
  • Ekstemporan (naskah berisi catatan garis besar saja).
  • Impromptu (serta-merta, spontanitas). 
Membahasakan Ide
Gunakan bahasa yang dikenal baik oleh publik, ragam bahasa yang tepat, gaya bicara yang tepat, kalimat tunggal, singkat, dan manfaatkan peranan lafal, intonasi, mimik, dan gestur secara optimal. 
Melatih Penyajian
  • Menurut E.C. Buechler, public speaking melukiskan wicara kita seperti bintang, yaitu tampil cemerlang muncul perlahan, tampil utuh, kemilau, gemerlap, menghalau gelap, menghangatkan dinginnya malam. Lalu secara perlahan pula meredup hingga menghilang. Secara garis besar, penyajiannya meliputi: ide, bentuk, bahasa, penyampaian, dan hubungan dengan publik.
  • Sumber daya tarik penampilan adalah pribadi, ide yang disampaikan, dan teknik penyampaian.
  • Penyajian sesuai dengan metode, yaitu ditangkap telinga, dimengerti melalui budi, dan diresapkan oleh hati (J. Waskito).
  • Kontak mata merupakan wujud nyata dari hasrat pembicara untuk berkomunikasi dengan publik. Oleh karena itu, seorang pembicara harus percaya diri. Cara menumbuhkan percaya diri di antaranya dengan melihat realitas diri sendiri, menerima kenyataan diri, dan mencintai diri sendiri.
  • Berbicara bersama publik.
  • Mimik dan gestur.
  • Umpan balik (reaksi publik).

Pengertian dan Sejarah Pers di Dunia dan Indonesia

PENGERTIAN PERS
Secara Etimologis
Kata "pers" berasal dari bahasa Inggris, yaitu "press" yang berarti menekan atau mengepres. Dengan demikian, pers adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya menerbitkan sesuatu melalui cara mencetak. Proses produksinya adalah dengan cara menekan atau mengepres. 

 

Menurut Leksikon Komunikasi
  • Usaha percetakan/penerbitan.
  • Usaha pengumpulan dan penyiaran berita.
  • Penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi.
  • Orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita.
  • Media penyiaran berita, yakni surat kabar, majalah, radio, dan televisi. 

 

Secara Umum
Usaha dari alat-alat komunikasi massa untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat akan hiburan, keinginan, peristiwa, dan berita yang terjadi dalam wujud surat kabar, majalah, buletin, atau media cetak lain atau diusahakan melalui radio, televisi, film, dan sebagainya. 

 

Menurut UU Pers No. 40 Thn. 1999
Lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Adapun kegiatan jurnalistik tersebut meliputi: mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. 

 

Konklusi:
  • Arti sempit = media cetak.
  • Arti luas = semua media komunikasi massa (cetak, elektronik, online).

SEJARAH PERS DUNIA
  • Sejarah pers dunia diawali dari Romawi Kuno, yakni informasi harian dikirimkan dan dipasangkan ke tempat-tempat publik, berupa isu negara dan berita lokal.
  • Awalnya, publikasi informasi tersebut hanya untuk kalangan pejabat pemerintah. Sesuai perkembangan zaman, masyarakat/publik juga membutuhkan publikasi informasi.
  • Surat kabar dan majalah publik pertama di Eropa Barat, Inggris, dan Amerika Serikat pada abad XVII - XVIII. 
  • Surat kabar dan majalah publik tersebut ternyata mendapat tentangan dan sensor dari para pengusaha setempat.
  • Sehingga pada pertengahan abad XVIII, terjadi Revolusi Prancis. Negara Amerika Serikat dan Swedia pun akhirnya mengesahkan Undang-Undang Kebebasan Pers pertama.
  • Perkembangan pers semakin pesat seiring ditemukannya mesin cetak tenaga uap oleh Johannes Gutenberg.
  • Akhir abad XIX, mulai dikembangkan organisasi kantor berita yang berfungsi mengumpulkan berbagai berita dan tulisan untuk didistribusikan ke berbagai penerbit surat kabar dan majalah.

SEJARAH PERS INDONESIA
Masa Pra-Kemerdekaan
Pers Kolonial
Pers yang diusahakan oleh orang-orang Belanda di Indonesia pada masa kolonial. Meliputi surat kabar, majalah, dan koran berbahasa Belanda, daerah, atau Indonesia. Tujuannya adalah untuk membela kepentingan kaum kolonialis Belanda, terutama membantu usaha pemerintah Hindia Belanda dalam melanggengkan kekuasaannya di tanah jajahan. 
Pers Cina
Pers yang diusahakan oleh orang-orang Cina di Indonesia. Meliputi koran dan majalah dalam bahasa Cina, Indonesia, dan Belanda. 
Pers Nasional
Pers yang diusahakan oleh orang-orang Indonesia, terutama orang-orang pergerakan dan diperuntukkan bagi orang Indonesia dengan tujuan memperjuangkan hak-hak bangsa Indonesia di masa penjajahan. Tahun 1910, Medan Priyayi menjadi surat kabar harian pertama dengan pendirinya Tirtohadisoerjo/Raden Djokomono. Tokoh ini menjadi tokoh pelopor pers nasional dengan modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia. 

 

Masa Pasca-Kemerdekaan
Tahun 1945 - 1950 (Pers Revolusi/Pers Perjuangan)
Pers menjadi alat perjuangan untuk merdeka. Peralatan percetakan menjadi rebutan antara rakyat Indonesia dengan penjajah. Fasilitas percetakan milik Jepang yang berhasil direbut seperti: Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang). Selama September hingga Desember 1945 beredar surat kabar baru, seperti: Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), Merdeka, Independent, Indonesia News Buletin, Warta Indonesia, dan The Voice of Free Indonesia. Pada masa ini, pers ini terbelah menjadi dua bagian:
  • Pers NICA yang dikelola oleh orang Belanda dan Sekutu.
  • Pers Republik yang dikelola oleh orang Indonesia.
Adapun Pers Republik juga pecah menjadi dua bagian:
  • Pers yang terbit di daerah pendudukan Belanda.
  • Pers yang mengungsi ke pedalaman.
Sedangkan peristiwa penting yang terjadi selama masa ini: (semua terjadi pada tahun 1946)
  • Berdiri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Solo dengan ketua Mr. Sumanang.
  • Kantor berita Antara dibuka kembali setelah tiga tahun dibekukan Jepang.
  • Berdirinya Serikat Pengusaha Surat Kabar (SPS). 

 

Tahun 1950 - 1959 (Pers Partisan)
Partai politik dalam rangka memperjuangkan kepentingannya juga membuat penerbitan. Pers pada masa ini sangat partisan/berpihak bergantung dari partai mana yang mendanai pers tersebut. 

 

Tahun 1959 - 1966
Pers mulai dikontrol oleh pemerintah. 

 

Tahun 1970-an
  • Pers mengalami depolitisasi dan komersialisasi. 
  • Depolitisasi pers ditandai dengan adanya difusi partai politik menjadi tiga bagian: PDI, PPP, dan Golkar pada tahun 1973, sehingga pers tidak lagi mendapat dana dari partai politik. 
  • Sedangkan komersialisasi pers ditandai dengan adanya pencarian dana dari periklanan. Pers mulai berubah bentuk dari alat ideologi menjadi industri besar. 

 

Tahun 1980-an (Pers Pembangunan)
  • Pada tahun 1982, pemerintah di bawah Menteri Penerangan mengeluarkan SIUPP. Jika SIUPP dicabut akan ditutup langsung oleh pemerintah. 
  • Pers mulai melakukan diversifikasi usaha dalam berbagai bidang. Akibatnya muncul grup-grup besar/konglomerat media seperti: Kompas Gramedia Grup, Sinar Kasih Grup, dan Grafiti Pers Grup.
  • Pers pada masa ini menjadi harapan pemerintah Orde Baru untuk mendukung dan menyebarluaskan pembangunan yang saat itu gencar dilaksanakan melalui pemberitaannya.

 

Tahun 1990-an
Pers mulai berani mengkritik dan menentang pemerintah Orde Baru (terjadi repolitisasi). 

 

Tahun 1998 - Sekarang (Pers Reformasi)
  • Pers Indonesia saat ini menikmati kebebasan pers, terlebih dengan dibentuknya UU No. 40 Thn. 1999 tentang pers. Pasal UU ini menyebutkan bahwa "kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum".
  • Selain itu, SIUPP dipermudah, dari yang memiliki enam belas tahap, sekarang hanya menjadi tiga tahap saja.