Selasa, 15 Februari 2011

Gunung Api

Gunung api adalah bentuk benjolan dengan ketinggian 400 meter ke atas dan masih aktif. Di dalam kulit bumi di bawah gunung api terdapat rongga besar dengan dinding yang tidak beraturan disebut dapur magma, sedangkan yang dimaksud dengan magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam bumi dengan suhu lebih dari 1000 derajat Celcius.

Kepulauan Indonesia dilewati oleh dua rangkaian pegunungan, yaitu rangkaian pegunungan sirkum pasifik dan rangkaian pegunungan mediterania. 

Sirkum pasifik terdiri atas pegunungan Indonesia Timur (Papua dan Halmahera) dan pegunungan Indonesia Utara (Kalimantan dan Sulawesi). Sirkum mediterania terdiri atas pulau Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Solor, Alor, Wetar dan Saparua.

Persebaran gunung api di Indonesia yang aktif jumlahnya sekitar 129 buah, dari jumlah tersebut yang sering meletus kurang lebih 70 buah. Deretan pegunungan api di Indonesia dibagi menjadi 5 sebagai berikut:
Deretan pegunungan Sunda 
(Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku Selatan, Banda).

Deretan pegunungan Sahul dan sirkum Australia  
(Australia, ujung timur Papua, Jayawijaya).

Deretan pegunungan Sangihe  
(Kepulauan Sangihe, Minahasa, Teluk Gorontalo, Sulawesi Selatan).

Deretan pegunungan Halmahera 
(Pulau Talaut, Pulau Maju dan Tifor, Halmahera, Ternate, Tidore hingga kepala burung).

Deretan pegunungan Kalimantan 
(Pulau Palawan Filipina, Sabah dan Serawak, Kalimantan).


Bentuk gunung api ada tiga macam:
Gunung api perisai 
Gunung api yang berbentuk perisai atau tameng. Material yang dikeluarkan berupa lava yang sangat cair. Contoh: Gunung Manoa Loa di Hawaii.

Gunung api strato 
Gunung api yang berbentuk kerucut. Hampir semua gunung api di Indonesia memiliki bentuk seperti ini.

Gunung api maar 
Gunung api yang letusannya sangat kuat sehingga menimbulkan lubang kepundan berbentuk corong. Contoh: Kota Bandung, Danau Toba.

Jenis letusan atau erupsi dari gunung api:
Erupsi linear
Lava keluar dari dalam bumi melalui celah dan rekahan di bumi.

Erupsi sentral
Lava keluar melalui terusan kepundan sentral atau diatrema. Ada 3 macam erupsi sentral:
Erupsi efusif
Magma keluar secara lambat.
Erupsi ekplosif
Letusan gunung api yang sangat hebat dan biasanya menghasilkan bahan-bahan lepas.
Erupsi campuran
Gunung api yang mengeluarkan lava dan bahan lepas secara bergantian.

Pada saat gunung api meletus, material yang dikeluarkan ada tiga jenis:
Berupa cairan (lava)

Berupa bahan padat/lepas (eflata/piroklastika)
Rempah-rempah gunung api yang berupa batu-batu besar (bom), batu-batu kecil (lapili), pasir, kerikil dan debu/abu vulkanis.

Berupa gas (ekshalasi)
Gas yang berasal dari gunung api. Gas ini merupakan pendorong dari erupsi gunung api. Gas tersebut adalah klorida, asam sulfida, asam sulfat, karbon dioksida, uap air, sulfida, dan nitrogen. Sedangkan gas yang berbentuk senyawa antara lain klorida, belerang dan salmiak. Selain itu, terdapat uap air yang berasal dari gunung api yang disebut Juvenil.
Gejala post-vulkanik terjadi pada daerah gunung api yang sudah tidak aktif. Gejala tersebut antara lain:
Sumber gas asam arang yang disebut mofet.

Solfatar (sumber gas belerang).

Fumarol (sumber gas uap air).

Sumber air panas.

Sumber air mineral.

Geyser (pancaran air panas yang berlangsung secara periodik).

Dampak yang ditimbulkan akibat letusan gunung berapi:
Dampak positif:
Dapat menyuburkan tanah.

Adanya material industri yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan.

Ditemukan barang tambang.

Terjadinya hujan orografis.

Arealnya dapat dimanfaatkan untuk kehutanan, perkebunan dan pariwisata.

Dampak negatif:
Lava dapat menghanguskan apa saja yang dilalui.

Awan panas dan lahar panas dapat menghanguskan semua yang dilewatinya.

Lahar dingin akan menghancurkan dan merusak rumah, jembatan, makhluk hidup, dll.

Dapat membentuk daerah bayangan hujan.

Dapat menimbulkan tsunami jika terjadi di laut.