Gaya Bahasa (Majas)

PLASTIK BAHASA
Kekuatan kata atau bahasa untuk membentuk gambaran di benak seseorang yang mendengar kata-kata tersebut. Di dalam sastra, plastik bahasa penting sekali karena bagaimana pun, kata yang dipilih harus mampu menimbulkan gambaran secara jelas tentang sesuatu hal di benak pembaca.

GAYA BAHASA
Bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek serta menimbulkan konotasi tertentu.

Gaya bahasa  menurut H. B. Jassin:
Perihal memilih dan mempergunakan kata sesuai dengan isi yang akan disampaikan. Gaya bahasa ini menyangkut bagaimana masalah, bagaimana menyusun kalimat secara efektif, estetis, dan mampu memberikan gambaran yang konkret kepada pembaca.

GAYA BAHASA PERBANDINGAN
Gaya bahasa yang berusaha membuat ungkapan dengan cara membandingkan suatu hal dengan keadaan yang lain.
Personifikasi
Gaya bahasa yang menganggap benda-benda tak bernyawa memunyai kegiatan, maksud, dan nafsu seperti yang dimiliki oleh manusia.

Contoh:
Dan Waktu 'Kan Selalu Cuma Waktu
Karya: Ayatrohaedi

Ada kalanya waktu berlaku terburu-buru
Tak sempat bicara panjang
Dengan langkah-langkah panjang
Ia cuma sempat berseru:
"Kini aku terburu-buru
Ada sesuatu yang kuburu
Dan belum lagi aku tahu
Apa atau siapa"

Tapi ada kalanya waktu melangkah lesu
Tak sempat bicara panjang
Karena langkah kita yang panjang
Terburu meninggalkannya
"Aku kini tak punya nafsu
Ada sesuatu yang kutunggu
Dan belum lagi aku tahu
Apa atau siapa"

Dan waktu
'Kan selalu
Cuma waktu

Penjelasan:
Dalam puisi di atas diperoleh kesan bahwa waktu telah dianggap mampu bertingkah laku seperti manusia oleh pengarangnya.

Metafora (Perbandingan Langsung)
Gaya bahasa yang memperbandingkan sesuatu hal atau keadaan dengan hal atau keadaan lain yang memiliki sifat yang sama.

Contoh:
  • Bintang lapangan (orang yang pandai bermain sepak bola) yang terkenal itu sedang menggiring bola.
  • Malioboro adalah jantung kota (pusat keramaian kota) Yogyakarta.
  • Pada revolusi fisik dulu banyak pemuda gugur sebagai kusuma bangsa (pahlawan).
  • Dewi malam (bulan) mulai memancarkan sinarnya.

Asosiasi (Perbandingan Tidak Langsung)
Berbeda dengan metafora, dalam asosiasi, perbandingan dinyatakan dengan kata ganti, seperti, bagai, laksana, bak.

Contoh:
  • Keyakinan pada dirinya meluap bagai uap air.
  • Hidupnya seperti biduk kehilangan kemudi.
  • Dia hadir laksana lilin bagai masyarakat di sana.

Metonimia
Gaya bahasa yang menyamakan sepatah kata atau nama yang memiliki hubungan dengan suatu benda lain yang merupakan merek perusahaan atau perdagangan.

Contoh:
  • Ayah membaca Kompas di halaman rumah tadi pagi.
  • Setiap hari Wendi pasti mengisap Djarum.
  • Dengan naik Garuda, Asep berangkat ke Singapura.

Simbolik
Gaya bahasa yang menyamakan sepatah kata dengan kata atau nama benda lain, dengan kata lain gaya bahasa yang memakai kata atau nama tertentu untuk mewakili pengertian dari nama, hal, atau keadaan lain di luar kata tersebut.

Contoh:
  • Dalam kemelut itu, Diponegoro gugur dan kehilangan mahkotanya (kekuasaannya).
  • Orang-orang merebut kursi (jabatan) kepala daerah yang kosong beberapa bulan ini.
  • Saya sudah memberikan lampu hijau (kesempatan) untuk memilih SMA yang kamu pilih.

Tropen
Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar artinya dengan pengertian yang dimaksud.

Contoh:
  • Selama liburan, Yuni mengubur diri di dalam kamar saja.
  • Kemarin Ibu Yanti terbang ke Medan.

Litotes
Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang berlawanan arti dengan maksud yang sebenarnya untuk merendahkan diri.

Contoh:
  • Singgahlah ke gubuk kami kalau ada waktu luang. (padahal rumahnya seperti istana)
  • Maaf ya, adanya hanya air kendi. (padahal yang disediakan minuman beraneka ragam).

Eufemisme
Gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata lain dari pengertian yang sebenarnya agar terdengar lebih sopan.

Contoh:
  • Maaf, saya mau ke belakang (WC/toilet) sebentar.
  • Sebenarnya putra Bapak hanya kurang pandai (bodoh) saja.

Hiperbola
Gaya bahasa yang menyatakan sesuatu hal atau keadaan secara berlebihan.

Contoh:
  • Keringat Budi menganak sungai.
  • Doni benar-benar mandi uang setelah menang undian.
  • Larinya Tina secepat kilat.

Sinekdok
Gaya bahasa ini dibedakan menjadi dua:
Pars Pro Toto
Gaya bahasa yang menyebutkan sebagian untuk seluruh.

Contoh:
  • Setiap kepala dikenakan biaya.
  • Kalau ke pasar belilah tiga ekor ayam.
  • Sudah beberapa hari ini saya tidak melihat batang hidungnya.

Totem Pro Parte
Gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan untuk sebagian.

Contoh:
  • Kecamatan Sukamandi menjadi juara kebersihan.
  • Semoga Indonesia dapat memboyong kembali Piala Thomas.

Alusio
Gaya bahasa yang memakai peribahasa yang sudah lazim dipakai orang.

Contoh:
  • Perbuatannya tidak lebih dari perbuatan si cebol merindukan bulan. (mengharapkan sesuatu yang mustahil).
  • Hidupnya seperti telur di ujung tanduk. (hidupnya tidak menentu nasibnya).

Perifrasis
Gaya bahasa yang menguraikan sepatah kata dengan serangkai kata yang memiliki arti sama.

Contoh:
  • Jangan menghambur-hamburkan uang tanpa guna! (boros)
  • Bukalah matamu lebar-lebar agar kau tidak menyesal (teliti/berhati-hati)
  • Jangan membuang-buang waktu dengan percuma! (bersantai saja)

Antonomasia
Gaya bahasa yang menyebutkan nama orang dengan sebutan lain yang sesuai dengan ciri atau watak orang tersebut.

Contoh:
  • Gadis berbaju kuning itu tersenyum kepadaku.
  • Alhamdulillah, si killer tidak masuk hari ini.
  • Si botak sudah mulai marah-marah saja.
  • Lucu sekali gadis berkacamata itu,

Alegori
Gaya bahasa yang dipakai dalam rangkaian tuturan secara keseluruhan. Artinya hampir semua kalimat dalam tuturan itu memakai gaya bahasa secara utuh dan terpadu.

Contoh:
  • Semoga Tuhan senantiasa menolong Ananda dalam mengayuh biduk ini, untuk mengarungi lautan yang penuh gelombang, topan, dan badai, serta tidak sedikit batu karang.

GAYA BAHASA PENEGASAN
Gaya bahasa yang berusaha menekankan pengertian suatu kata atau ungkapan.
Pleonasme
Gaya bahasa yang menjelaskan suatu kata yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah jelas pengertiannya.

Contoh:
  • Mereka mundur ke belakang.
  • Kejadian itu saya lihat dengan mata kepala saya sendiri.

Pararelisme
Gaya bahasa ini dibedakan menjadi dua:
Pararelisme Anafora
Gaya bahasa yang menempatkan kata atau kelompok kata yang sama secara berulang-ulang di depan setiap baris puisi.

Contoh:
Langkah Ketujuh
Karya: B. Y. Tand

Cakar bumi
Cakar langit
Cakar luka sendiri

Cari pusat bumi ketujuh
Cari pusat langit ketujuh
Cari pusat perih luka ketujuh

Mungkin di sana batu-batu cair
Jadi danau reguklah
Berkaca di wajahnya

Pararelisme Epifora
Gaya bahasa yang menempatkan kata atau kelompok kata yang sama secara berulang-ulang di belakang setiap baris puisi.

Contoh:
Bunga
Karya: Hamid Jabar

Bunga tumbuh mekar mewangi aroma dalam segala suasana kau dan aku
Bunga dari senyum adalah luka yang redam dalam cakrawala kau dan aku
Bunga dari luka adalah luka yang terpendam dalam mata kau dan aku
Bunga dari duka adalah rindu yang menyelam dalam upaya kau dan aku
Bunga dari segala bunga adalah lagu salam selalu menyapa kau dan aku
Bunga sarinya mutiara atau tuba 'kan tiba pada bahu waktu kau dan aku
Bunga luruh nanar mendebu sunyi di seribu taman manusia kau dan aku
Bunga kau bungaku kau rinduku menerka kembali
Ke awal waktu: kau dan aku sayang tak sampai kecuali yang tak kita tahu!

Repetisi
Gaya bahasa yang mengulang sepatah kata atau kelompok kata beberapa kali dalam kalimat yang berbeda.

Contoh:
  • Kita tidak ingin menderita. Kita tidak ingin dijajah. Kita tidak sudi ditindas. Kita ingin merdeka.

Tautologi
Gaya bahasa yang mengulang sepatah kata atau kelompok kata beberapa kali dalam sebuah kalimat.

Contoh:
  • Lepaskan diriku, lepaskan, lepaskan!
  • Disuruhnya aku bersabar, bersabar, dan terus bersabar.

Simetri
Gaya bahasa yang menegaskan pengertian kalimat dengan kalimat lain yang memiliki pengertian sebanding.

Contoh:
  • Ia menjadi pendiam. Suka mengasingkan diri.
  • Ada pula masanya ia serupa orang sakit. Matanya kabur dan mukanya suram, tiada berseri sedikit juga.

Klimaks
Gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin memuncak atau makin hebat.

Contoh:
  • Rakyat di kampung, di desa, dan di kota mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Antiklimaks
Gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berturut-turut makin lama makin melemah artinya.

Contoh:
  • Jangankan seribu, seratus, serupiah pun aku tidak punya.

Asindeton
Gaya bahasa yang tidak memakai kata-kata penghubung untuk menjelaskan sesuatu.

Contoh:
  • Coba Sinta ambilkan bantal, selimut untuk tamu kita.
  • Dia ke pasar memberi sayur, buah, minyak, garam untuk keperluan makan siang nanti.

Polisindeton
Gaya bahasa yang memakai kata-kata penghubung untuk menjelaskan sesuatu.

Contoh:
  • Sebelum naik ke rumah, maka ditinggalkannya sepatunya, karena takut mengotori lantai.
  • Kedua tangan dan kedua kakinya sangat indah dan manis bentuknya.

Enumerasio
Gaya bahasa yang menyebutkan beberapa peristiwa yang membentuk kesatuan, dilukiskan bagian demi bagian supaya jelas.

Contoh:
  • Kamu tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Saya seorang yang hina, yang diusir keluarga, yang tidak memunyai alamat pasti.

Inversi
Gaya bahasa yang meletakkan predikat di depan subjek.

Contoh:
  • Cantik benar gadis itu.
  • Menyanyi dan menari adalah kegemaran adikku.

Interupsi
Gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau kelompok kata yang disisipkan di antara kalimat pokok guna lebih memperjelas dan memberikan penekanan bagian kalimat sebelumnya.

Contoh:
  • Kawanku, Rudi dan Herman, selalu rajin belajar.
  • Aku, orang yang sudah sepuluh tahun bekerja di sini, belum juga mendapatkan hadiah kenaikan gaji.

Retoris
Gaya bahasa yang menggunakan kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban.

Contoh:
  • Siapa tidak percaya bahwa Tuhan itu ada?

Koreksio
Gaya bahasa yang berisi pembetulan terhadap apa yang diucapkan sebelumnya.

Contoh:
  • Itu dia pacarku, eh bukan, dia temanku.

Eksklamasio
Gaya bahasa yang memakai kata-kata seru sebagai penegas.

Contoh:
  • Aduhai, indahnya pemandangan itu!
  • Hai, cepat kalian ke sini!

Elipsi
Gaya bahasa yang menghilangkan salah satu unsur atau beberapa unsur kalimat, mungkin subjek, objek, atau keterangan.

Contoh:
  • Aku. Yah, aku.
  • Mengertilah.

Preterito
Gaya bahasa yang dipergunakan untuk menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu hal.

Contoh:
  • Tak usah banyak bicara, yang penting buktinya sudah ada.
  • Siapa yang bersalah, tak usah kita bicarakan di sini.

Retisentis
Gaya bahasa yang menyembunyikan sebagian pikiran dan perasaan yang akan dikemukakan.

Contoh:
  • Jika suasana seperti ini, ... awas!
  • gadis penuh keibuan seperti itu, tidak tahunya ....

GAYA BAHASA SINDIRAN
Gaya bahasa yang dipakai untuk menyindir orang lain, dari sindiran halus untuk bersenda gurau sampai pada sindiran kasar sebagai ungkapan perasaan tidak senang.
Ironi
Gaya bahasa yang memakai kata-kata yang berlawanan dengan maksud sebenarnya.

Contoh:
  • Aduh bagus benar tulisanmu, mirip cakar ayam.
  • Cepat benar kau pulang, masih jam dua malam.

Sinisme
Gaya bahasa yang memakai kata-kata yang sudah terdengar kasar.

Contoh:
  • Mual perutku melihat tampangmu.
  • Lebih baik mengupah orang daripada bicara denganmu.

Sarkasme
Gaya bahasa sindiran yang paling kasar karena kata-kata yang dipakainya kadangkala kata-kata yang tidak sopan dan kotor.

Contoh:
  • Biar kulempar kau keluar, anjing!
  • Mampus sajalah kau di sana nanti!
  • Bangsat, berani benar kau menentangku!

GAYA BAHASA PERTENTANGAN
Gaya bahasa yang digunakan untuk menentang atau mempertentangkan segala sesuatu.
Paradoks
Gaya bahasa yang tampaknya mengandung pertentangan, padahal tidak karena objeknya berbeda.

Contoh:
  • Di kelas yang ramai itu, Indra merasa kesepian.
  • Daerah ini tandus, tetapi penduduknya makmur.

Kontradiksi In Terminis
Gaya bahasa yang berisi ungkapan yang bertentangan dengan apa yang disebutkan sebelumnya.

Contoh:
  • Malam ini hening sekali, hanya gonggongan anjing terdengar di kejauhan.
  • Tahun ini semua anaknya naik kelas, kecuali Si Bungsu.

Antitesis
Gaya bahasa yang mengandung paduan kata yang berlawanan.

Contoh:
  • Gagal atau berhasil, kalah-menang, itu sudah merupakan hukum dalam hidup di dunia ini.
  • Baik tua-muda, laki-laki dan perempuan, semuanya berkumpul pada acara malam tahun baru di Ancol.

Okupasi
Gaya bahasa yang mengandung bantahan terhadap sesuatu, tetapi kemudian diberikan penjelasan.

Contoh:
  • Merokok itu merusak kesehatan. Tetapi anehnya ada sebagian orang yang tidak bisa bekerja dengan baik sebelum merokok terlebih dahulu.